SEKILAS INFO
30-01-2026
  • 1 bulan yang lalu / Libur Semester Ganjil Mulai Tanggal 21 Desember 2025 sd Tanggal 4 Januari 2026
  • 5 bulan yang lalu / selamat HUT RI Ke-80, Mari jaga Merah Putih Tetap Berkibar di hati dan bumi pertiwi
  • 7 bulan yang lalu / Selamat Tahun baru Islam 1447 Hijriyah
21
Aug 2025
0
Semarak Pembukaan PORSENI dan Kampanye Anti-Perundungan di SMPN 1 Tana Lili: Suara Solidaritas untuk Zara Qairina

Tana Lili, 21 Agustus 2025 — SMP Negeri 1 Tana Lili kembali menggelar ajang tahunan bergengsi, Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), dengan penuh semangat dan kreativitas. Kegiatan yang resmi dibuka pada Kamias, 21 Agustus 2025  ini menjadi panggung bukan hanya bagi bakat dan prestasi siswa, tetapi juga sebagai sarana menyuarakan isu penting yang tengah menjadi perhatian sekolah dan masyarakat: perlawanan terhadap perundungan dan ketidakadilan.

Tahun ini, pembukaan PORSENI diwarnai dengan peluncuran kampanye besar bertajuk “Sekolah Ramah, Siswa Aman”, yang fokus pada penanggulangan berbagai bentuk perundungan. Namun, lebih dari itu, acara juga menjadi ruang solidaritas untuk mendukung keadilan bagi Zara Qairina, salah satu siswi yang sebelumnya menjadi korban perundungan dan ketidakadilan penanganan kasus di lingkungan sekolah.

Komitmen Sekolah Melawan Perundungan.

Dalam pidatonya, Kepala Sekolah SMPN 1 Tana Lili, Bapak Andi Mulyadi, S.Pd., menyampaikan bahwa sekolah berkomitmen untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan fisik, verbal, maupun psikis.

 “Hari ini kita bukan hanya merayakan prestasi dan kreativitas, tetapi juga menyatukan suara untuk mengatakan: cukup sudah. Tidak boleh ada lagi Zara-Zara lain yang harus menanggung luka karena pembiaran atau ketidakpedulian. Kami berdiri bersama untuk keadilan dan perlindungan terhadap setiap anak,” tegas beliau.

Acara pembukaan diisi dengan parade kontingen dari seluruh kelas, penampilan seni tari daerah, serta ikrar kolektif siswa menolak segala bentuk perundungan. Yang paling menyentuh adalah ketika seluruh peserta mengenakan pita putih di lengan sebagai simbol solidaritas terhadap korban perundungan, khususnya Zara Qairina.

“Justice for Zara Qairina”: Dari Seruan Hati ke Gerakan Kolektif

Momen yang paling menggugah terjadi ketika Ketua OSIS, Geisya Alfarizi, secara terbuka menyuarakan dukungan kepada Zara dalam orasinya di tengah lapangan.

 “Kami semua di sini berdiri bukan hanya untuk lomba dan medali, tetapi untuk satu nama yang mewakili ribuan suara yang pernah dibungkam: Zara Qairina. Kami ingin keadilan ditegakkan. Perundungan bukan salah korban. Diam adalah bentuk lain dari kekerasan.”

Seruan “Justice for Zara Qairina” kemudian digaungkan bersama oleh seluruh siswa dan guru. Spanduk besar bertuliskan #JusticeForZaraQairina dan Stop Bullying Now! terpampang di panggung utama, sebagai wujud nyata bahwa sekolah tidak tinggal diam atas kasus yang terjadi.

Aksi Kreatif: Poster, Drama, dan Panggung Suara

Dalam bagian kampanye, ditampilkan pula drama pendek berjudul “Zara, Suara yang Tak Lagi Diam”, menggambarkan kisah seorang siswa yang berani melawan perundungan dengan dukungan teman dan keberanian melapor. Penonton, termasuk guru dan orang tua, tampak haru menyaksikan betapa realita tersebut sangat dekat dalam keseharian.

Salah satu siswa, Farhan (kelas IX), yang juga menjadi peserta lomba poster, mengatakan bahwa inspirasi karyanya datang dari kisah Zara.

 “Gambar saya menggambarkan tangan-tangan kecil yang saling menggenggam untuk mengangkat seorang teman yang jatuh. Itu Zara. Dan itu kita semua. Kita saling jaga.”

PORSENI: Ruang Aman untuk Tumbuh dan Bersinar

PORSENI sendiri berlangsung meriah, dengan berbagai pertandingan olahraga seperti futsal, voli, bulu tangkis, dan lomba seni seperti puisi, tari kreasi, serta menyanyi solo. Di setiap arena, panitia menegaskan aturan zero tolerance terhadap ejekan, provokasi, dan kekerasan verbal selama perlombaan.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Bapak Anwar sadat,S.Pd., menyampaikan bahwa sekolah kini bergerak lebih aktif dalam membangun budaya empati, bukan hanya reaktif terhadap kasus.

 “Hari ini kita tak hanya menggelar lomba, tapi menegakkan keadilan. Zara Qairina dan anak-anak lainnya berhak mendapat perlindungan. Ini bukan hanya PR sekolah, tapi tanggung jawab moral kita semua sebagai pendidik.”

Harapan Besar di Balik Langkah Kecil

Acara ditutup dengan pelepasan balon berwarna putih dan ungu ke udara sebagai simbol harapan dan solidaritas. Sebuah kapsul waktu juga dikuburkan di halaman sekolah, berisi surat-surat dari siswa kepada “Sekolah Masa Depan” — sekolah tanpa perundungan.

Dengan semangat “Bersama Kita Kuat, Tanpa Perundungan Kita Hebat”, dan seruan lantang untuk #JusticeForZaraQairina, SMPN 1 Tana Lili tidak hanya mencetak prestasi, tetapi juga mengukir sejarah dalam perjuangan melawan perundungan dan ketidakadilan. By omar syahaban